Sabtu, 23 Juni 2012

AGROFORESTRY


BAB I
PENDAHULUAN
            Membaca literatur dewasa ini, kita cenderung menyimpulkan bahwa agro forestri dimulai baru 5-6 tahun yang lalu. Tetapi agroforestri sudah ada selama ratusan tahun. Para petani Afrika biasa menggabungkan budi daya tanaman pangan dengan tanaman jangka panjang seperti pepohonan. Namun demikian, pada awal abad ini kekuasaan penjajah melarang praktek-praktek ini, menganggapnya sebagai terbelakang.
            Penanaman berbagai jenis pohon dengan atau tanpa tanaman semusim (setahun) pada sebidang lahan yang sama sudah sejak lama dilakukan petani (termasuk peladang) di Indonesia. Contoh semacam ini dapat dilihat pada lahan pekarangan di sekitar tempat tinggal petani. Praktek seperti ini semakin meluas belakangan ini khususnya di daerah pinggiran hutan karena ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Konversi hutan alam menjadi lahan pertanian menimbulkan banyak masalah, misalnya penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan. Secara global, masalah ini semakin berat sejalan dengan meningkatnya luas hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain. Peristiwa ini dipicu oleh upaya pemenuhan kebutuhan terutama pangan baik secara global yang diakibatkan oleh peningkatan jumlah penduduk.
            Di tengah perkembangan itu lahirlah agroforestri, suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian dan kehutanan yang mencoba menggabungkan unsur tanaman dan pepohonan. Ilmu ini mencoba mengenali dan mengembangkan sistem-sistem agroforestri yang telah dipraktekkan oleh petani sejak berabad-abad yang lalu.
            Agroforestri telah menarik perhatian peneliti-peneliti teknis dan sosial akan pentingnya pengetahuan dasar pengkombinasian antara pepohonan dengan tanaman tidak berkayu pada lahan yang sama, serta segala keuntungan dan kendalanya.
            Masyarakat tidak akan perduli siapa dirinya, apakah mereka orang pertanian, kehutanan atau agroforestri. Mereka juga tidak akan memperdulikan nama praktek pertanian yang dilakukan, yang penting bagi mereka adalah informasi dan binaan teknis yang memberikan keuntungan sosial dan ekonomi. Penyebarluasan agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumber daya hutan, dan meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan  diversifikasi silvikultur.
BAB II
PEMBAHASAN
1.    PENGERTIAN AGROFORESTRI
            Agroforestri adalah budidaya tanaman kehutanan (pohon-pohon) bersama dengan tanaman pertanian (tanaman semusim). Pengertian agroforestri seperti di atas merupakan pengertian sederhana karena agroforestri dapat diartikan lebih luas lagi dengan pengabungan sistem budidaya kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan. Agroforestri merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris "Agroforestry" yaitu Agro berarti pertanian dan Forestry berarti Kehutanan. Agroforestri dikenal juga dengan istilah "Wanatani" yaitu gabungan kata Wana berarti Hutan dan Tani atau Pertanian.
            King mendefinisikan Agroforestri sebagai Suatu sistem pengolahan lahan yang berazaskan kelestarian untuk meningkatkan produktivitas lahan secara keseluruhan, yaitu dengan mengkombinasikan produksi tanaman pertanian (termasuk tanaman pohon-pohonan) dan tanaman hutan, dan atau hewan secara bersamaan atau berurutan, pada unit lahan yang sama, dan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan budaya setempat.
            Ada juga yang mendefinisikan Agroforestri sebagai Suatu metode penggunaan lahan secara optimal yang mengkombinasikan sistem produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang, secara bersamaan atau berurutan (suatu kombinasi produksi kehutanan dan produksi biologis lainnya) dengan cara yang dilandasi oleh azas kelestarian, dalam suatu kawasan hutan atau kawasan di luarnya, dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat.
            Lundgreen dan Raintree menjelaskan bahwa Agroforestri adalah istilah untuk sistem-sistem pemanfaatan lahan dan teknologi, dengan tanaman-tanaman keras (pohon-pohonan, perdu, jenis-jenis palma, bambu, dan sebagainya) yang ditanam berbarengan dengan tanaman pertanian semusim, dan atau pemeliharaan hewan, untuk tujuan tertentu, pengelolaannya berada dalam suatu bentuk pengaturan spasial atau urutan, yang didalamnya terjadi interaksi ekologis dan ekonomis antara berbagai komponen yang membentuk sistem tersebut.
            Agroforestri merupakan suatu sistem pengelolaan lahan untuk mengatasi masalah ketersediaan lahan dan peningkatan produktivitas lahan. Masalah yang sering timbul adalah alih fungsi lahan menyebabkan lahan hutan semakin berkurang. Agroforestri diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut dan masalah ketersediaan pangan.
            Konsep agroforestri merupakan rintisan dari tim Canadian International Development Centre, yang bertugas untuk mengindentifikasi prioritas-prioritas pembangunan di bidang kehutanan di negara-negara berkembang dalam tahun 1970-an. Oleh tim ini dilaporkan bahwa hutan-hutan di negara tersebut belum cukup dimanfaatkan. Pemanfaatan di bidang kehutanan sebagian besar hanya ditujukan kepada dua aspek produksi kayu, yaitu eksploitasi secara selektif di hutan alam dan tanaman hutan secara terbatas. Agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan, meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi silvikultur. Namun sistem Agroforestri telah dipraktekan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad dengan nama dan istilah yang berbeda-beda.
            Agroforestri merupakan suatu istilah baru dari praktek-praktek pemanfaatan lahan tradisional yang memiliki unsur-unsur :
a)    Penggunaan lahan atau sistem penggunaan lahan oleh manusia
b)   Penerapan teknologi
c)    Komponen tanaman semusim, tanaman tahunan dan/atau ternak atau hewan
d)   Waktu bisa bersamaan atau bergiliran dalam suatu periode tertentu
e)    Ada interaksi ekologi, sosial, ekonomi
            Sesuai definisi agroforestri diatas maka sistem ini bervariasi dan cukup luas sehingga dapat diklasifikasi berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut :
a)    Secara Struktual, menyangkut komposisi komponen, seperti sistem-sistem agrisilvikultur, silvopastur dan agrisilvopastur.
b)   Secara Fungsional, menyangkut fungsi atau peranan utama dalam sistem, terutama komponen kayu-kayuan
c)    Secara Sosial Ekonomis, menyangkut tingkat masukan dalam pengelolaan (masukan rendah, masukan tinggi, intensitas dan skala pengelolaan, tujuan usaha, subsisten, komersial, intermedier).
d)   Secara Ekologis, menyangkut kondisi lingkungan dan kesesuaian ekologis dari sistem Agrisilvikultur, Silvopastur, Agrosilvopastur, Silvofishery, pohon serbaguna, dan lainnya.
            Tujuan akhir program agroforestri adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat petani, terutama yang di sekitar hutan, yaitu dengan memprioritaskan partisipasi aktif masyarakat dalam memperbaiki keadaan lingkungan yang rusak dan berlanjut dengan memeliharanya. Program-program agroforestri diarahkan pada peningkatan dan pelestarian produktivitas sumberdaya, yang akhirnya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tujuan tersebut diharapkan dapat dicapai dengan cara mengoptimalkan interaksi positif antara berbagai komponen penyusunnya (pohon, produksi tanaman pertanian, ternak/hewan, perikanan) atau interaksi antara komponen-komponen tersebut dengan lingkungannya.
            Menurut De Foresta dan Michon (1997), agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks. Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar. Jenis-jenis pohon yang ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, melinjo, petai, jati dan mahoni atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Jenis tanaman semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan yaitu padi (gogo), jagung, kedelai, kacang-kacangan, ubi kayu, sayur-sayuran dan rerumputan atau jenis-jenis tanaman lainnya. 
            Sistem agroforestri kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon, juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah besar. Ciri utama dari sistem agroforestri kompleks ini adalah kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem ini dapat pula disebut sebagai Agroforestri (Icraf dalamHairiah et al. 2003).
            Agroforestri mempunyai banyak bentuk, bila ditinjau dari segi ruang dan waktu. Ditinjau dari segi ruang agroforestri mencakup dua dimensi yaitu vertikal dan horizontal. Pada dimensi vertikal, peran agroforestri terutama berhubungan erat dengan pengaruhnya terhadap ketersediaan hara, penggunaan dan penyelamatan (capture) sumber daya alam. Bila ditinjau dari segi waktu, dua komponen agroforestri yang berbeda dapat ditanam bersamaan atau bergiliran. 

2.    RUANG LINGKUP AGROFORESTRI
            Pada dasarnya agroforestri terdiri dari tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian dan peternakan, di mana masing-masing komponen sebenarnya dapat berdiri sendiri-sendiri sebagai satu bentuk sistem penggunaan lahan. Hanya saja sistem-sistem tersebut umumnya ditujukan pada produksi satu komoditi khas atau kelompok produk yang serupa. Penggabungan tiga komponen tersebut menghasilkan beberapa kemungkinan bentuk kombinasi sebagai berikut:
a)    Agrisilvikultur yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan (pepohonan, perdu, palem, bambu, dan lain-lain.) dengan komponen pertanian.
b)    Agropastura yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan komponen peternakan
c)     Silvopastura yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan peternakan
d)    Agrosilvopastura yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan kehutanan dan peternakan/hewan
            Dari keempat kombinasi tersebut, yang termasuk dalam agroforestri adalah Agrisilvikutur, Silvopastura dan Agrosilvopastura. Sementara agropastura tidak dimasukkan sebagai agroforestri, karena komponen kehutanan atau pepohonan tidak dijumpai dalam kombinasi.
            Di samping ketiga kombinasi tersebut, Nair (1987) menambah sistem-sistem lainnya yang dapat dikategorikan sebagai agroforestri. Beberapa contoh yang menggambarkan sistem lebih spesifik yaitu:
a)    Silvofishery = kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan perikanan.
b)    Apiculture = budidaya lebah atau serangga yang dilakukan dalam kegiatan atau komponen kehutanan.
Gambar 1. Ruang Lingkup Sistem Pemanfaatan Lahan secara Agroforestri
Gambar 1. Ruang Lingkup Sistem Pemanfaatan Lahan secara Agroforestri
3.    SISTEM AGROFORESTRI
            Berikut ini diterangkan contoh beberapa sistem agroforestri.
1)   Strip Rumput
            Strip rumput merupakan bentuk peralihan dari sistem pertanian tanaman semusim menjadi sistem agroforestri. Strip rumput adalah barisan rumput dengan lebar 0,5-1 m dan jarak antar strip 4-10 m yang ditanam sejajar garis ketinggian (kontur). Pada tanah yang berteras, rumput ditanam di pinggir (bibir) teras. Jenis rumput yang cocok adalah rumput yang mempunyai sistem perakaran rapat dan dapat dijadikan hijauan pakan ternak, misalnya rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput BD (Brachiaria decumbens), rumput BH (Brachiaria humidicola), rumput pahit (Paspallum notatum) dan lain- lain. Adakalanya rumput akar wangi (Vetiveria zizanioides) digunakan juga sebagai tanaman strip rumput. Akar wangi tidak disukai ternak, tetapi menghasilkan minyak atsiri yang merupakan bahan baku pembuatan kosmetik.Keuntungan strip rumput:Mengurangi kecepatan aliran permukaandan erosiMemperkuat bibir terasMenyediakan hijauan pakan ternakMembantu mempercepat proses pembentukan teras secara alami.
2)      Pertanaman Lorong
            Sistem ini merupakan sistem pertanian di mana tanaman semusim ditanam pada lorong di antara barisan tanaman pagar yang ditata menurut garis kontur. Jenis tanaman yang cocok untuk tanaman pagar adalah tanaman kacang-kacangan (leguminosa) seperti, gamal (Flemingia congesta Gliricidia sepium), lamtoro (Leucaena leucocephala), danCalliandra callothirsus. Jarak antar baris tanaman pagar berkisar antara 4 sampai 10 m. Semakin curam lereng, jarak antar barisan tanaman pagar dibuat semakin dekat.
3)   Pagar Hidup
            Pagar hidup adalah barisan tanaman perdu atau pohon yang ditanam pada batas kebun. Bila kebun berada pada lahan yang berlereng curam, maka pagar hidup akan membentuk jejaring yang bermanfaat bagi konservasi tanah. Pangkasannya dapat digunakan sebagai sumber bahan organik atau sebagai hijauan pakan ternak.
            Jenis tanaman yang dipakai untuk pagar sebaiknya yang mudah ditanam dan mudah didapatkan bibitnya, misalnya gamal dengan stek, turi, lamtoro dan kaliandra dengan biji. Untuk tanaman pagar jenis leguminose perdu (lamtoro, gamal), ditanam dengan jarak antar batang ± 20 cm. Jarak yang rapat ini untuk menjaga agar tanaman pagar tidak tumbuh terlalu tinggi.
Keuntungan pagar hidup:
Ø  Melindungi kebun dari ternak Pangkasannya dapat dijadikan hijauan pakan ternak
Ø  Menjadi sumber bahan organik dan hara tanah
Ø  Menyediakan kayu bakar
Ø  Mengurangi kecepatan angin (wind break)
4)   Sistem Multistrata
            Sistem multistrata adalah sistem pertanian dengan tajuk bertingkat, terdiri dari tanaman tajuk tinggi (seperti mangga, kemiri), sedang (seperti lamtoro, gamal, kopi) dan rendah (tanaman semusim, rumput) yang ditanam di dalam satu kebun. Antara satu tanaman dengan yang lainnya diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling bersaing.
            Tanaman tertentu seperti kopi, coklat memerlukan sedikit naungan, tetapi kalau terlalu banyak naungan pertumbuhan dan produksinya akan terganggu.
Keuntungan sistem multistrata:
Ø  Mengurangi intensitas cahaya matahari, misalnya untuk kopi dan coklat yang butuh naungan.
Ø  Karena banyak jenis tanaman, diharapkan panen dapat berlangsung secara bergantian sepanjang tahun dan ini dapat menghindari musim paceklik.
Ø  Tanah selalu tertutup tanaman sehingga aman dari erosi
4.    AGROFORESTRI SEBAGAI SISTEM PENGGUNAAN LAHAN
            Berbicara mengenai agroforestri, berarti berbicara mengenai sistem. Sistem terdiri dari beberapa komponen dalam susunan tertentu (struktur), yang satu sama lain saling berpengaruh atau melaksanakan fungsinya. Satu sistem membentuk satu kesatuan yang berbeda dengan lingkungannya dan di antara keduanya ada hubungan timbal balik. Di samping itu satu sistem memiliki sifat-sifat tertentu yang juga dapat berubah antara lain dalam kaitan dengan struktur dan fungsinya.
            Agroforestri terdiri dari komponen-komponen kehutanan, pertanian dan/atau peternakan, tetapi agroforestri sebagai suatu sistem mencakup komponen-komponen penyusun yang jauh lebih rumit. Hal yang harus dicatat, agroforestri merupakan suatu sistem buatan (man-made) dan merupakan aplikasi praktis dari interaksi manusia dengan sumber daya alam di sekitarnya.
            Agroforestri pada prinsipnya dikembangkan untuk memecahkan permasalahan pemanfaatan lahan dan pengembangan pedesaan; serta memanfaatkan potensi-potensi dan peluang-peluang yang ada untuk kesejahteraan manusia dengan dukungan kelestarian sumber daya beserta lingkungannya. Oleh karena itu manusia selalu merupakan komponen yang terpenting dari suatu sistem agroforestri. Dalam melakukan pengelolaan lahan, manusia melakukan interaksi dengan komponen-komponen agroforestri lainnya. Komponen tersebut adalah:


a)      Lingkungan abiotis: air, tanah, iklim, topografi, dan mineral.
b)      Lingkungan biotis: tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu dll) serta tumbuhan tidak berkayu (tanaman tahunan, tanaman keras, tanaman musiman dll), binatang (ternak, burung, ikan, serangga dll), dan mikroorganisme.
c)      Lingkungan budaya: teknologi dan informasi, alokasi sumber-sumber daya, infrastruktur dan pemukiman, permintaan dan penawaran, dan disparitas penguasaan/pemilikan lahan.
            Komponen-komponen ABC (Abiotic, Biotic dan Culture) tersebut di atas tersusun dalam sistem agroforestri melalui berbagai cara. Beberapa komponen biotis hadir secara alami, yang mungkin sebagian masih bertahan atau tertinggal dari kegiatan penggunaan lahan sebelumnya. Komponen yang lain memang secara khusus atau sengaja ditempatkan/ditanam oleh manusia sebagai pengelola lahan. Berbagai komponen dalam satu sistem akan bereaksi atau menunjukkan respon berbeda dengan respon masing-masing pada kondisi terisolasi. Karena adanya interaksi antar komponen tersebut, sistem pada dasarnya berbeda dengan total penambahan secara sederhana dari beberapa komponen. Jadi hutan lebih dari sekedar kumpulan pohon, demikian pula agroforestri bukan sekedar upaya campur-mencampur kehutanan dengan pertanian dan/atau peternakan (von Maydell, 1988).
5.    JENIS AGROFORESTRI
a)    Silvopastur
Silvopasture menggabungkan penggembalaan ternak pada tanaman makanan ternak atau padang rumput dalam penanaman pohon atau semak yang dikelola secara aktif . Sapi, domba dan kambing adalah ternak yang paling umum dimasukkan ke dalam sistem silvopasture dan mereka mungkin digunakan seluruhnya dalam silvopasture pertanian / woodlot pribadi atau melalui kolaborasi pengaturan antara pemegang lisensi hutan dan produsen ternak di lahan publik (misalnya di British Columbia, penggembalaan domba digunakan sebagai alat manajemen vegetasi di hutan tanaman muda).
Pinus radiata ditanam pada tahun 1970 dalam baris sekitar 30 meter terpisah pertengahan musim semi. Pohon-pohon rata-rata ~ 33 cms/13 inci tinggi pada saat tanam. Untuk mempertahankan produktivitas di padang, jerami dipanen dan kemudian dipotong musim gugur berikut dengan gandum. Setelah tanaman ini dipanen Merino domba yang merumput untuk merumput jerami tersebut. Mereka merumput selama sekitar dua minggu sebelum mereka mulai memberi makan pada pohon. Domba ini kemudian bertukar dengan massa baru domba. Hay kemudian dipotong lagi. Setelah panen ini pohon-pohon itu cukup tinggi untuk mengatasi merumput domba cabangnya lebih rendah. Hampir produktivitas tidak hilang dan sebagai pohon-pohon mulai mempengaruhi iklim mikro paddock menjadi lebih dan lebih produktif.
b)   Silvoarable
Silvoarable campuran antara tanaman pohon subur atau perkebunan, kadang-kadang disebut sebagai 'matahari sistem', adalah suatu bentuk tumpangsari., Dan dapat diterapkan oleh petani sebagai strategi untuk memerangi erosi tanah, untuk meningkatkan keragaman lahan pertanian , sebagai sarana untuk diversifikasi tanaman dan memperoleh manfaat terpadu lainnya. Dalam praktek ini, tanaman ditanam dalam strip di gang-gang terbentuk antara deretan pohon dan / atau semak belukar. Manfaat potensial dari desain ini meliputi penyediaan tempat teduh di tempat yang panas, lingkungan kering (mengurangi kehilangan air dari penguapan), retensi kelembaban tanah, peningkatan keanekaragaman struktural dari situs dan habitat satwa liar. Tanaman keras berkayu dalam sistem ini dapat menghasilkan buah, kayu bakar, pakan ternak, atau hiasan untuk dijadikan mulsa.
Inga gang tanam telah diusulkan sebagai alternatif untuk kehancuran ekologi pertanian Slash bakar . Pohon Inga adalah genus kecil tropis, tangguh-pohon berdaun, pengikat nitrogen.
c)    Hutan pertanian
Hutan pertanian, juga dikenal sebagai 'sistem keteduhan', adalah budidaya, berkelanjutan terintegrasi baik kayu dan non kayu hasil hutan dalam lingkungan hutan  pertanian Hutan adalah terpisah dan berbeda dari eksploitasi oportunistik / panen liar non-. kayu hasil hutan. Kegiatan kehutanan yang berhasil pertanian menghasilkan: jamur, maple sirup dan birch, tanaman asli digunakan untuk lansekap dan bunga tanaman hijau (misalnya Salal, pedang pakis, beruang rumput, dahan pohon cedar dan lainnya), produk obat dan farmasi (misalnya ginseng, goldenseal, Cascara atau yew kulit kayu), berry liar dan buah.
d)   Hutan berkebun
Hutan berkebun adalah produksi pangan dan lahan sistem manajemen berdasarkan ekosistem hutan, tetapi mengganti pohon (seperti pohon buah atau kacang), semak-semak, semak, tumbuh-tumbuhan dan sayuran yang memiliki hasil langsung berguna bagi manusia. Memanfaatkan penanaman pendamping , ini dapat bercampur tumbuh di berbagai tingkat di daerah yang sama, seperti halnya tanaman di hutan. Para Agroforestry Research Trust, dikelola oleh Martin Crawford, memiliki taman 2-hektar hutan di Devon, Inggris.
6.    PENGEMBANGAN AGROFORESTRI
Pengembangan Agroforestry Memperhatikan kondisi areal yang dipilih dan kondisi sosial ekonomi masyarakat serta mengacu kepada bentuk/model Agroforestry pola tanam yang diterapkan secara garis besar adalah sebagai berikut :
a.       Tanaman Pokok ; berupa tanaman kehutanan yang merupakan prioritas utama tanaman yang ditujukan sebagai produksi kayu dengan penentuan daur tebang selama 5 tahun. Jenis tanaman yang dipilih yaitu jenis sengon (Faraserianthes falcataria).
b.      Tanaman Semusim (Tahap I); merupakan tanaman pertanian yang berotasi pendek, ditanam diantara tanaman pokok dengan jarak minimal 30 cm dari batang tanaman pokok. Waktu penanaman dilaksanakan pada tahun pertama/ sebelum tanaman pokok berusia satu tahun, jenis tanaman yang dipilih kacang tanah.
c.        Tanaman semusim (Tahap II) ; dipilih tanaman pertanian berotasi pendek yang dapat tumbuh dengan/tanpa naungan, ditanam setelah panen tanaman semusim tahap pertama (kacang tanah) sampai batas waktu tanaman pokok berumur dua tahun. Jenis tanaman yang dipilih adalah jahe Gajah.
d.      Tanaman Keras ; merupakan tanaman pertanian yang berotasi panjang /tanaman perkebunan yang dapat hidup dibawah naungan dan bukan sebagai pesaing bagi tanaman pokok dalam memperoleh cahaya . Ditanaman setelah tanaman pokok berurmur 2 tahun, menempati lahan diantara tanaman pokok, tujuan penanaman untuk untuk memperoleh hasil buah (non kayu). Jenis yang terpilih adalah tanaman kopi .
Tujuan pengembangan Agroforestry antara lain :
a.       Pemanfaatan lahan secara optimal yang ditujukan kepada produksi hasil tanaman berupa kayu dan non kayu secara berurutan dan/atau bersamaan.
b.      Pembangunan hutan secara multi funfsi dengan melibatkan peran serta masyarakat secara aktif.
c.       Meningkatkan pendapatan petani/penduduk miskin dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan meningkatnya kepedulian warga masyarakat terhadap upaya peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di lingkungannya guna mendukung proses pemantapan ketahan pangan masyarakat. 

7.    MANFAAT AGROFORESTRI
            Agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan, meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi silvikultur. Sistem ini telah dipraktekan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad (Michon dan de Foresta, 1995),
Sistem agroforestry dapat menguntungkan dibandingkan konvensional metode produksi pertanian dan hutan melalui peningkatan produktivitas, keanekaragaman hayati, manfaat ekonomi, hasil-hasil sosial dan barang ekologis dan layanan yang diberikan.
Keanekaragaman hayati di agroforestri sistem biasanya lebih tinggi daripada dalam sistem pertanian konvensional. Agroforestry menggabungkan setidaknya beberapa spesies tanaman ke daerah tanah yang diberikan dan menciptakan habitat yang lebih kompleks yang dapat mendukung lebih banyak jenis burung, serangga, dan hewan lainnya. Agroforestri juga memiliki potensi untuk membantu mengurangi perubahan iklim karena pohon mengambil dan menyimpan karbon pada tingkat yang lebih cepat dari tanaman.
Jenis pohon agroforestry kepentingan penelitian di daerah tropis, terutama dalam kaitannya untuk meningkatkan hasil panen jagung di sub-Sahara Afrika, termasuk nitrogen fixing spesies Sesbania sesban, Tephrosia vogelii, gamal dan Faidherbia albida. Sebagai contoh, sepuluh tahun percobaan di Malawi menunjukkan bahwa dengan menggunakan pohon pupuk seperti Tephrosia vogelii dan gamal, hasil panen jagung rata-rata 3,7 ton per hektar, dibandingkan dengan 1 ton per hektar di petak tanpa pohon pupuk atau pupuk mineral.  Penelitian dengan Faidherbia albida di Zambia selama beberapa tahun menunjukkan bahwa pohon-pohon dewasa dapat mempertahankan hasil panen jagung sebesar 4,1 ton per hektar dibandingkan dengan 1,3 ton per hektar di luar kanopi pohon. Tidak seperti pohon-pohon lain, Faidherbia gudang nitrogen kaya daun selama musim hujan tanaman tumbuh sehingga tidak bersaing dengan tanaman untuk cahaya, nutrisi dan air. Daun kemudian tumbuh kembali selama musim kemarau dan memberikan penutupan lahan dan naungan untuk tanaman.
Potensi dampak agroforestry dapat termasuk:
a)    Mengurangi kemiskinan melalui peningkatan produksi produk agroforestry untuk konsumsi rumah dan penjualan
b)   Berkontribusi untuk ketahanan pangan dengan mengembalikan kesuburan tanah pertanian untuk tanaman pangan dan produksi buah-buahan, kacang-kacangan dan minyak nabati
c)    Mengurangi deforestasi dan tekanan terhadap hutan dengan menyediakan kayu bakar tumbuh di peternakan
d)   Meningkatkan keanekaragaman pada pertanian tanaman pohon dan tutupan pohon untuk buffer petani terhadap dampak perubahan iklim global
e)    Dengan meningkatkan aksesibilitas terhadap pohon obat, sumber utama obat untuk 80% dari population.
Praktek agroforestry juga dapat digunakan untuk mewujudkan sejumlah tujuan lain lingkungan yang terkait, seperti
Ø Karbon penyerapan
Ø Bau, debu, dan pengurangan kebisingan
Ø Air limbah atau pengelolaan pupuk (misalnya menggunakan air limbah perkotaan pada intensif, hutan rotasi pendek untuk produksi serat kayu)
Ø Hijau ruang dan estetika visual.
Ø Peningkatan atau pemeliharaan habitat satwa liar.





Dari berbagai sumber.......


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar