Senin, 16 April 2012

PENGAWETAN TANAH


KATA PENGANTAR

Puji syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatnya penyusun bisa menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas yang diberikan Bapak Dosen kepada penyusun. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang pengawetan tanah dengan menggunakan tiga metode yaitu vegetasi, mekanik dan kimia.Terima kasih penyusun ucapkan kepada Bapak Dosen, selaku dosen yang mengajar mata kuliah Geografi Tanah.
Demikianlah yang dapat penyusun sampaikan. Dengan segala kekurangan pada makalah ini penyusun meminta maaf yang sebesar-besarnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya.




                           
Medan, mei 2011
Kelompok 14



DAFTAR ISI
Kata Pengantar.......................................................................................................... 1
Daftar Isi.................................................................................................................... 2
Pendahuluan.............................................................................................................. 3
Pembahasan............................................................................................................... 4
Lahan Kritis............................................................................................................... 7
Pengawetan tanah...................................................................................................... 5
Pengolahan tanah....................................................................................................... 10
Pengelolaan tanaman untuk konservasi tanah............................................................ 11
Kesimpulan................................................................................................................ 14
Dafatr pustaka........................................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
Tanah adalah sumber daya yang perlu dijaga kesuburannya agar tetap dapat menghasilkan hasil yang maksimal tanpa merusak tanah. Pemakaian tanah untuk pertanian dan perkebunan secara terus-menerus dan membabi-buta dapat membuat tanah menjadi tidak subur atau tandus. Beberapa penyebab ketidaksuburan tanah ialah seperti pemcemaran tanah oleh limbah buangan, pestisida, tanaman monoton, dan lain-lain.
            Tanah bisa mengalami kerusakan. Bahkan  tanah termasuk wujud alam yang mudah mengalami keruasakan. Salah satu contoh kerusakan tanah adalah erosi tanah. Erosi tanah adalah tanah yang lapuk dan mudah mengalami penghancuran. Kerusakan yang dialami pada tanah tempat erosi disebabkan oleh kemunduran sifat – sifat kimia dan fisik tanah, yakni:
Ø  kehilangan unsur hara  dan bahan organik,
Ø  menurunnya kapasitas infiltrasi dan kemampuan tanah menahan air,  
Ø  meningkatnya kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah,
Ø  serta berkurangnya kemantapan struktur tanah yang pada akhirnya menyebabkan memburuknya pertumbuhan tanaman dan menurunnya produktivitas
Hal ini dikarenakan lapisan atas tanah setebal 15 sampai 30 cm mempunyai sifat– sifat kimia dan fisik lebih baik dibandingkan lapisan lebih bawah.Banyaknya unsur hara yang hilang bergantung pada besarnya kandungan unsur hara yang terbawa oleh sedimen dan besarnya erosi yang terjadi.Di tempat lain, erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Tanah yang terangkut tersebut diendapkan di tempat lain yaitu, di dalam sungai, waduk, danau, saluran irigasi dan di atas tanah pertanian.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    LAHAN KRITIS
Pengertian Lahan Kritis
               Lahan kritis adalah sebidang lahan yang penggunaan atau pemanfaatannya tidak sesuai dengan kemampuannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan lahan kritis adalah penggunaan lahan harus sesuai dengan kelas kemampuan tanah. Meskipun telah dikelola, produktivitas lahan kritis sangat rendah. Bahkan, dapat terjadi jumlah produksi yang diterima jauh lebih sedikit daripada biaya pengelolaanya.
             Lahan ini bersifat tandus, gundul, tidak dapaat digunakan untuk usaha pertanian, karena tingkat kesuburannya sangat rendah. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya lahan kritis antara lain sebagai berikut :
Ø  Kekeringan, biasanya terjadi di daerah-daerah bayangan hujan.
Ø  Genangan air yang terus-menerus, seperti di daerah pantai yang selalu tertutup rawa-rawa.
Ø  Erosi tanah dan masswasting yang biasanya terjadi di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah yang miring. Erosi yaitu penghancuran struktur tanah menjadi butir-butir primer oleh energy tumbuk butir-butir hujan yang menimpa tanah dan perendaman oleh air yang tergenang (proses disperse) dan pemindahan (pengangkutan) butir-butir tanah oleh percikan hujan dan penghancuran struktur tanah diikuti pengangkutan butir-butir tanah tersebut oleh airyang mengalir di permukaan tanah (Arsyad, 1989). Masswassting adalah gerakan masa tanah menuruni lereng.
Ø  Pengolahan tanah yang kurang memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Lahan kritis dapat terjadi di dataran tinggi, pegunungan , di daerah yang miring, atau bahkan di dataran rendah.
Ø  Masuknya material yang dapat bertahan lama kelahan pertanian (tak dapat diuraikan oleh bakteri) misalnya plastik.
Ø  Pembekuan air, biasanya terjadi di daerah kutub atau pegunungan yang sangat tinggi.
Ø  Pencemaran, zat pencemar seperti pestisida dan limbah pabrik yang masuk ke lahan pertanian baik yang melalui aliran sungai maupun yang lain mengakibatkan lahan pertanian menjadi kritis. Beberapa jenis pestisida dapat bertahan beberapa tahun di dalam tanah sehingga sangat mengganggu kesuburan lahan pertanian.
              Jika lahan kritis dibiarkan dan tidak ada perlakuan perbaikan, maka keadaan itu akan membahayakan kehidupan manusia, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Maka dari itu, lahan kritis harus segera diperbaiki. Untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh adanya lahan kritis tersebut, pemerintah Indonesia telah mengambil kebijakan, yaitu dengan melakukan rehabilitasi dan konservasi lahan-lahan kritis di Indonesia.
Upaya penanggulangan lahan kritis dilaksanakan sebagai berikut :
1.      Lahan dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi pertanian, perkebunan, peternakan, dan usaha lainnya.
2.      Erosi tanaah perlu dicegah melalui pembuatan lereng-lereng bukit.
3.      Usaha perluasan penghijauan tanah milik dan reboisasi lahan hutan.
4.      Pengembangan keanekaragaman hayati.
5.      Perlu tindakan tegas bagi siapa saja yang merusak lahan yang mengarah pada terjadinya lahan kritis.
6.      Menghilangkan unsure-unsur yang dapat mengganggu kesuburan lahan pertanian, misalnya plastik.
7.      Pemupukan dengan pupuk organic atau alami, yaitu pupuk kandang atau pupuk hijau secara tepat dan terus-menerus.
B.     PENGAWETAN TANAH
Pengawetan tanah adalah usaha pengendalian erosi, melakukan koreksi (pemeliharaan atau perbaikan) tanah-tanah yang mengalami kekurangan unsur hara, yang mengalami penurunan daya produksinya, dengan maksud agar segalanya dapat dipulihkan kembali atau memperoleh peningkatan.
Tujuan pengawetan tanah  adalah untuk :
Ø  Mencegah kerusakan tanah
Ø  Memperbaiki tanah rusak
Ø  Memelihara serta menaikkan produktivitas tanah, agar tercapai produksi setinggi-tingginya dalam waktu tidak terbatas.
Metode pengawetan tanah pada umumnya dilakukan untuk:

1.
Melindungi tanah dari curahan langsung air hujan.

2.
Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah.

3
Mengurangi run off (aliran air di permukaan tanah).

4
Meningkatkan stabilitas agregat tanah


Metode pengawetan tanah dibagi menjadi tiga yaitu:

1.      Metode Vegetatif
Metode vegetatif adalah metode pengawetan tanah dengan cara menanam vegetasi (tumbuhan) pada lahan yang dilestarikan. Metode ini sangat efektif dalam pengontrolan erosi. Ada beberapa cara mengawetkan tanah melalui metode vegetatif antara lain:

a.    Penghijauan, yaitu penanaman kembali hutan-hutan gundul dengan jenis tanaman tahunan seperti akasia, angsana, flamboyant. Fungsinya untuk mencegah erosi, mempertahankan kesuburan tanah, dan menyerap debu/kotoran di udara lapisan bawah.
b.    Reboisasi, yaitu penanaman kembali hutan gundul dengan jenis tanaman keras seperti pinus, jati, rasamala, cemara. Fungsinya untuk menahan erosi dan diambil kayunya.
c.    Penanaman secara kontur (contour strip cropping), yaitu menanami lahan searah dengan garis kontur. Fungsinya untuk menghambat kecepatan aliran air dan memperbesar resapan air ke dalam tanah. Cara ini sangat cocok dilakukan pada lahan dengan kemiringan 3 – 8%
d.    Penanaman tumbuhan penutup tanah (buffering), yaitu menanam lahan dengan tumbuhan keras seperti pinus, jati, cemara. Fungsinya untuk menghambat penghancuran tanah permukaan oleh air hujan, memperlambat erosi dan memperkaya bahan organik tanah.
e.    Penanaman tanaman secara berbaris (strip cropping), yaitu melakukan pe-nanaman berbagai jenis tanaman secara berbaris (larikan). Penanaman berbaris tegak lurus terhadap arah aliran air atau arah angin. Pada daerah yang hampir datar jarak tanaman diperbesar, pada kemiringan lebih dari 8% jarak tanaman dirapatkan. Fungsinya untuk mengurangi kecepatan erosi dan mempertahankan kesuburan tanah.
f.     Pergiliran tanaman (croprotation), yaitu penanaman tanaman secara bergantian (bergilir) dalam satu lahan. Jenis tanamannya disesuaikan dengan musim. Fungsinya untuk menjaga agar kesuburan tanah tidak berkurang.

Pergiliran tanaman memberikan keuntungan-keuntungan lain seperti :
1.      Pemberantasan hama penyakit, menekan populasi hama dan penyakit karena memutuskan si klus hidup hama dan penyakit atau mengurangi sumber makanan dan tempat hidupnya
2.       Pemberantasan gulma, penanaman satu jenis tanaman tertentu terus menerus akan meningkatkan pertumbuhan jenis-jenis gulma tertentu.
3.       Mempertahankan dan memperbaiki sifat-sifat fisik dan kesuburan tanah, jika sisa tanaman pergiliran dijadikan mulsa atau dibenamkan dalam tanah akan mempertinggi kemampuan tanah menahan dan menyerap air, mempertinggi stabilitas agregat dan kapasitas infiltrasi tanah dan tanaman tersebut adalah tanaman leguminosa akan menambah kandungan nitrogen tanah, dan akan memelihara keseimbangan unsur hara karena absorpsi unsure dari kedalaman yang berbeda.
2.
Metode Mekanik/Teknik

Metode mekanik adalah metode mengawetkan tanah melalui teknik-teknik pengolahan tanah yang dapat memperlambat aliran permukaan (run off), menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan tidak merusak. Beberapa cara yang umum dilakukan pada metode mekanik antara lain:
a.
Pengolahan tanah menurut garis kontur (contour village), yaitu pengolahan tanah sejajar garis kontur. Fungsinya untuk menghambat aliran air, dan memperbesar resapan air.
b.
Pembuatan tanggul/guludan/pematang bersaluran, yaitu dalam pembuatan tanggul sejajar dengan kontur. Fungsinya agar air hujan dapat tertampung dan meresap ke dalam tanah. Pada tanggul dapat ditanami palawija.
c.
Pembuatan teras (terrassering), yaitu membuat teras-teras (tangga-tangga) pada lahan miring dengan lereng yang panjang. Fungsinya untuk memperpendek panjang lereng, memperbesar resapan air dan mengurangi erosi.
d.
Pembuatan saluran air (drainase). Saluran pelepasan air ini dibuat untuk memotong lereng panjang menjadi lereng yang pendek, sehingga aliran dapat diperlambat dan mengatur aliran air sampai ke sungai.

Metode pengawetan tanah akan sangat efektif apabila metode mekanik dikombinasikan dengan metode vegetatif misalnya terrassering dan buffering. Metode mekanik berfungsi :
ü  Mengurangi kecepatan aliran permukaan sehingga air mengalir tanpa menimbulkan erosi.
ü  Memperluas kesempatan bagi aliran permukaan untuk meresap lebih banyak ke dalam tanah.

3. Metode Kimia
Metode kimia dilakukan dengan menggunakan bahan kimia untuk memperbaiki struktur tanah, yaitu meningkatkan kemantapan agregat (struktur tanah). Tanah dengan struktur yang mantap tidak mudah hancur oleh pukulan air hujan, sehingga air infiltrasi tetap besar dan aliran air permukaan (run off) tetap kecil.
Penggunaan bahan kimia untuk pengawetan tanah belum banyak dilakukan, walaupun cukup efektif tetapi biayanya mahal. Pada saat sekarang ini umumnya masih dalam tingkat percobaan-percobaan. Beberapa jenis bahan kimia yang sering digunakan untuk tujuan ini antara lain Bitumen dan Krilium. Emulsi dari bahan kimia tersebut dicampur dengan air, misalnya dengan perbandingan 1:3, kemudian dicampur dengan tanah.
            metode kimia juga menggunakan preparat kimia sintetis atau alami. Preparat ini disebut Soil Conditioner atau pemantap struktur tanah. Sesuai dengan namanya Soil Conditioner ini digunakan untuk membentuk struktur tanah yang stabil. Senyawa yang terbentuk akan menyebabkan tanah menjadi stabil
C.    PENGOLAHAN TANAH
Pengolahan tanah adalah proses di mana tanah digemburkan dan dilembekkan dengan menggunakan tangkai kemudi ataupun penggaruk yang ditarik oleh traktor maupun bajak yang ditarik oleh binatang maupun manusia. Melalui proses ini, kerak tanah teraduk, sehingga udara dan cahaya matahari menembus tanah dan meningkatkan kesuburannya. Sekalipun demikian, tanah yang sering digarap sering menyebabkan kesuburannya berkurang.
Tujuan pengolahan tanah adalah untuk menyiapkan tempat pesemaian, tempat bertanam, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenamkan sisa tanaman, dan memberantas gulma.
Cara pengolahan tanah sangat mempengaruhi struktur tanah alami yang baik yang terbentuk karena penetrasi akar atau fauna tauna, apabila pengolahan tanah terlalu intensif maka struktur tanah akan rusak. Kebiasaan petani yang mengolah tanah secara berlebihan dimana tanah diolah sampai bersih permukaannya merupakan salah satu contoh pengolahan yang keliru karena kondisi seperti ini mengakibatkan surface sealing yaitu butir tanah terdispersi oleh butir hujan , menyumbat pori-pori tanah sehingga terbentuk surface crusting.



Untuk mengatasi pengaruh buruk pengolahan tanah, maka dianjurkan beberapa cara pengolahan tanah konservasi yang dapat memperkecil terjadinya erosi. Cara yang dimaksud adalah :
1. Tanpa Olah Tanah (TOT), tanah yang akan ditanami tidak diolah dan sisa-sisa tanaman       sebelumnya dibiarkan tersebar di permukaan, yang akan melindungi tanah dari ancaman erosi selama masa yang sangat rawan yaitu pada saat pertumbuhan awal tanaman. Penanaman dilakukan dengan tugal. Gulma diberantas dengan menggunkan herbisida.
2. Pengolahan tanah minimal, tidak semua permukaan tanah diolah, hanya barisan tanaman saja yang diolah daan sebagian sisa-sisa tanaman dibiarkan pada permukaan tanah.
3. Pengolahan tanah menurut kontur, pengolahan tanah dilakukan memotong lereng sehingga ter-bentuk jalur-jalur tumpukan tanah dan alur yang menurut kontur atau melintang lereng.
Pengolahan tanah menurut kontur akan lebih efektif jika diikuti dengan penanaman menurut kontur juga yang memungkinkan penyerapan air dan menghindarkan pengangkutan tanah. Sebagian dari praktek pengolahan tanah seperti ini sebenarnya sudah ada sejak dulu dan telah dilakukan oleh petani di beberapa daerah di Indonesia. Petani mungkin menganggapnya sebagai tradisi nenek moyangnya yang perlu dipertahankan.
Walaupun saat itu belum ada penyuluh pertanian ataupun literatur tentang konservasi tanah, tetapi para petani telah menerapkan cara bertani yang berasaskan konservasi tanah. Mengolah tanah secara konservasi telah dilakukan oleh orang jaman dulu dengan tujuan untuk mendapatkan hasil dari usahataninya guna memenuhi kebutuhan hidup jangka pendek, dan mungkin belum terpikirkan oleh mereka untuk melestarikan sumber daya tanah.
D.    Pengelolaan Tanaman Untuk Konservasi Tanah
Vegetasi sampai sekarang masih dianggap sebagai cara konservasi tanah yang paling jitu dalam mengontrol erosi tanah seperti yang diyakini sejumlah ahli konservasi bahwa “a bag of fertilizer is more effective than a bag of cement” (Hudson, 1989). Erosi yang terjadi akan berbeda pada setiap penggunaan tanah, variasi ini tergantung pada pengelolaan tanaman.
Contoh sederhana seperti yang dikemukakan Hudson (1957) cit. Hudson (1980), kehilangan tanah dari 2 plot percobaan yang ditanami jagung, plot yang pengelolaannya tanamannya buruk kehilangan tanahnya 15 kali lebih besar dari plot yang pengelolaan tanahnya baik. Secara alamiah, tanaman rumput cenderung melindungi tanah, dan tanaman dalam barisan memberikan perlindungan lebih kecil, tetapi pendapat umum ini berobah oleh pengelolaan. Pengelolaan tanaman akan sangat menentukan besar kecilnya erosi. Penelitian menunjukkan bahwa pertanaman jagung yang dikelola dengan baik akan bertumbuh baik dan dapat menekan laju erosi dibanding padang rumput yang pengelolaannya buruk. Secara singkat dikatakan oleh Hudson bahwa erosi tidak tergantung pada tanaman apa yang tumbuh, tetapi bagaimana tanaman itu tumbuh.
Pengaruh tanaman dan pengelolaannya terhadap erosi tidak dapat dievaluasi secara terpisah karena pengaruhnya lebih ditentukan apabila keduanya dikombinasikan. Tanaman yang sama dapat ditanam secara terus menerus atau dapat juga digilir atau tumpang sari dengan tanam-an lain. Pergiliran tanaman dengan menggilirkan antara tanaman pangan dan tanaman penutup tanah/pupuk hijau adalah salah satu cara penting dalam konservasi tanah. Pergiliran tanaman mempengaruhi lamanya pergantian penutupan tanah oleh tajuk tanaman.
Efektivitas pengelolaan sisa-sisa tanaman dalam mengontrol erosi akan tergantung pada banyaknya sisa tanaman yang tersedia. Pemanfaatan sisa-sisa panen sebagai pupuk juga telah dilakukan sebagian petani di beberapa daerah sejak jaman dulu. Sisa-sisa panen yang dibiarkan atau ditinggalkan di lahan pertanian mempunyai banyak fungsi dalam menunjang usaha tani, diantaranya adalah sebagai mulsa yang dapat menghindarkan pengrusakan permukaan tanah oleh energi hujan, mempertahankan kelembaban tanah mengurangi penguapan, sisa panen lambat laun akan terdekomposisi terjadi mineralisasi yaitu perubahan bentuk organik menjadi anorganik sehingga unsur hara yang dilepaskan akan menjadi tersedia untuk tanaman, disamping itu asam-asam organik yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai bahan pembenah tanah atau soil conditioner.
Praktek pertanian dengan berbagai jenis pupuk buatan pabrik semakin intensif digunakan sehingga mulai muncul kekuatiran kehabisan bahan baku pembuat pupuk, mulai mahal dan langkanya ketersediaan pupuk buatan, serta kekuatiran pencemaran tanah dan perairan oleh residu pupuk buatan, membuat sebagian orang kembali tertarik untuk melakukan praktek organic farming yang meminimalkan penggunaan bahan kimia dalam usahatani, dengan menggunakan bahan alami seperti pupuk hijau. Praktek yang dulu telah dilakukan petani walaupun tanpa disadarinya berfungsi untuk konservasi tanah, saat ini dilakukan lagi dengan kesadaran sebagai pelestarian sumber daya alam.
             Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam pengolahan lahan pertanian ialah produktivitas tanah pada lingkungan yang normal untuk menghasilkan tanaman tertentu. Contoh: tingkat produktivitas tanah bila ditanami padi adalah 5 ton/ha. Jadi produktivitas tanah menunjukkan tingkat produksi dan tiap satuan luas untuk tanaman tertentu.
             Tingkat produktivitas tanah sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah, curah hujan, suhu, kelembaban udara, system pengolahan lahan, dan pemilihan jenis tanaman. Upaya peningkatan produktivitas lahan ini disebut program Panca usaha tani yang meliputi:
1. Pengolahan lahan.
2. Pengairan.
3. Cara pemupukan.
4. Pemberantasan hama dan penyakit
5. Teknik penanaman



BAB III
KESIMPULAN
Tanah adalah sumber daya yang perlu dijaga kesuburannya agar tetap dapat menghasilkan hasil yang maksimal tanpa merusak tanah. Lahan kritis adalah sebidang lahan yang penggunaan atau pemanfaatannya tidak sesuai dengan kemampuannya. Lahan ini bersifat tandus, gundul, tidak dapaat digunakan untuk usaha pertanian, karena tingkat kesuburannya sangat rendah. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya lahan kritis antara lain sebagai berikut :
Ø  Kekeringan, biasanya terjadi di daerah-daerah bayangan hujan.
Ø  Genangan air yang terus-menerus, seperti di daerah pantai yang selalu tertutup rawa-rawa
Ø  Erosi tanah dan masswasting yang biasanya terjadi di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah yang miring.
Upaya penanggulangan lahan kritis dilaksanakan sebagai berikut :
1.      Lahan dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi pertanian, perkebunan, peternakan, dan usaha lainnya.
2.      Erosi tanaah perlu dicegah melalui pembuatan lereng-lereng bukit.
3.      Usaha perluasan penghijauan tanah milik dan reboisasi lahan hutan.
4.      Pengembangan keanekaragaman hayati.
Pengawetan tanah adalah usaha pengendalian erosi, melakukan koreksi (pemeliharaan atau perbaikan) tanah-tanah yang mengalami kekurangan unsur hara, yang mengalami penurunan daya produksinya, dengan maksud agar segalanya dapat dipulihkan kembali atau memperoleh peningkatan.
Tujuan pengawetan tanah  adalah untuk :
Ø  Mencegah kerusakan tanah
Ø  Memperbaiki tanah rusak
Ø  Memelihara serta menaikkan produktivitas tanah, agar tercapai produksi setinggi-tingginya dalam waktu tidak terbatas.
Metode pengawetan tanah dibagi menjadi tiga yaitu metode vegetative, mekanik dan kimia.



Metode vegetatif adalah metode pengawetan tanah dengan cara menanam vegetasi (tumbuhan) pada lahan yang dilestarikan. Contoh metode ini yaitu Penghijauan, Reboisasi, Penanaman secara kontur (contour strip cropping),Penanaman tumbuhan penutup tanah (buffering),Penanaman tanaman secara berbaris (strip cropping), dan Pergiliran tanaman (croprotation)

Metode mekanik adalah metode mengawetkan tanah melalui teknik-teknik pengolahan tanah yang dapat memperlambat aliran permukaan (run off), menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan tidak merusak. Contoh metode ini adalah pengolahan tanah menurut garis kontur, pembuatan tanggul, pembuatan teras, dan pembuatan saluran air.
Metode kimia dilakukan dengan menggunakan bahan kimia untuk memperbaiki struktur tanah, yaitu meningkatkan kemantapan agregat (struktur tanah).
Beberapa jenis bahan kimia yang sering digunakan untuk tujuan ini antara lain Bitumen dan Krilium. Emulsi dari bahan kimia tersebut dicampur dengan air, misalnya dengan perbandingan 1:3, kemudian dicampur dengan tanah. Metode kimia juga menggunakan preparat kimia sintetis atau alami. Preparat ini disebut Soil Conditioner atau pemantap struktur tanah.
Pengolahan tanah adalah proses di mana tanah digemburkan dan dilembekkan dengan menggunakan tangkai kemudi ataupun penggaruk yang ditarik oleh traktor maupun bajak yang ditarik oleh binatang maupun manusia.
Pengaruh tanaman dan pengelolaannya terhadap erosi tidak dapat dievaluasi secara terpisah karena pengaruhnya lebih ditentukan apabila keduanya dikombinasikan. Tanaman yang sama dapat ditanam secara terus menerus atau dapat juga digilir atau tumpang sari dengan tanam-an lain. Pergiliran tanaman dengan menggilirkan antara tanaman pangan dan tanaman penutup tanah/pupuk hijau adalah salah satu cara penting dalam konservasi tanah. Pergiliran tanaman mempengaruhi lamanya pergantian penutupan tanah oleh tajuk tanaman.




DAFTAR PUSTAKA
Elfayetti dan Kamarlin Pinem.2011.Geografi Tanah:Medan:UNIMED
http://edukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Modul%20Online/view&id=109&uniq=912Bottom of Form
http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/pengolahan-tanahpenanaman-menurut-kontur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar